Ketika Lahan Pulih, Harapan Petani Bangkit
Repost: kompasiana.com
Oleh : Lia Anggraini
Siklon Tropis Senyar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 26 November 2025 tercatat sebagai salah satu bencana kemanusiaan terbesar dalam satu dekade terakhir. Hujan ekstrem yang disertai angin kencang memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah, merusak permukiman, infrastruktur dasar, lahan pertanian, serta mengganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat. Besarnya dampak yang ditimbulkan menjadikan penanganan bencana ini tidak hanya menuntut kecepatan pada fase tanggap darurat, tetapi juga ketepatan strategi dalam memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pada masa tanggap darurat, berbagai persoalan krusial muncul secara bersamaan. Banyak wilayah terisolasi akibat rusaknya akses jalan dan jembatan, sehingga menghambat distribusi logistik dan layanan kemanusiaan. Fasilitas kesehatan dan pendidikan mengalami kerusakan, sementara kebutuhan akan air bersih, sanitasi layak, dan pasokan listrik meningkat tajam. Di sisi lain, masyarakat terdampak---terutama kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas---membutuhkan perlindungan dan pemenuhan hak dasar secara berkelanjutan. Kondisi ini menuntut transisi yang mulus dari penanganan darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi agar pemulihan tidak terputus di tengah jalan.

Memasuki fase rehabilitasi, tantangan yang dihadapi menjadi semakin kompleks. Tidak hanya membangun kembali infrastruktur yang rusak, pemerintah juga dituntut untuk menata ulang ruang wilayah dan memulihkan lingkungan agar lebih aman dari ancaman bencana di masa depan. Rehabilitasi harus mampu menjawab kebutuhan jangka pendek masyarakat, sekaligus meletakkan fondasi pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Sektor pertanian menjadi salah satu fokus utama dalam upaya pemulihan ini. Bagi sebagian besar masyarakat di wilayah terdampak, pertanian merupakan sumber penghidupan utama sekaligus penopang ketahanan pangan lokal. Kerusakan lahan persawahan, sistem irigasi, dan sarana produksi tidak hanya berdampak pada penurunan produksi, tetapi juga memukul psikologis petani dan keluarganya, yang kehilangan harapan dan rasa percaya diri untuk kembali menanam. Jika kondisi ini dibiarkan, maka dampak sosial-ekonomi bencana akan berlangsung jauh lebih lama.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mempercepat pemulihan tersebut, Kementerian Pertanian melaksanakan kegiatan Groundbreaking Penanganan Bencana di wilayah Sumatera Utara. Salah satu lokasi kegiatan berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di Kelurahan Bonalumban, Kecamatan Tukka. Di wilayah ini, banjir bandang telah merusak lahan persawahan serta sumber air irigasi yang selama ini menjadi penopang utama produksi padi.
Groundbreaking di Tapanuli Tengah bukan sekadar seremoni awal pekerjaan fisik, melainkan penanda dimulainya kembali harapan petani untuk bangkit. Kehadiran pemerintah di tengah-tengah petani membawa pesan penting bahwa negara tidak hanya membangun kembali lahan dan saluran air, tetapi juga hadir untuk memulihkan kepercayaan diri dan semangat bertani masyarakat yang sempat runtuh akibat bencana.

Selain rehabilitasi lahan, pemerintah juga melakukan peninjauan langsung terhadap sumber air irigasi yang mengalami kerusakan parah. Perbaikan infrastruktur irigasi menjadi langkah mendesak agar aliran air dapat kembali mengairi sawah dan kegiatan tanam tidak tertunda lebih lama. Dalam konteks ini, Kementerian Pertanian menangani lahan sawah dengan kategori rusak ringan hingga sedang melalui pendekatan terpadu lintas wilayah terdampak, mencakup perbaikan fisik, pendampingan teknis, serta penguatan kapasitas petani di lapangan.
Lebih dari itu, proses rehabilitasi pertanian pascabencana juga perlu menyentuh aspek pemulihan jiwa petani dan keluarganya. Pendampingan, komunikasi, dan penguatan motivasi menjadi bagian penting agar petani kembali memiliki keberanian untuk menanam, merawat, dan berharap pada musim tanam berikutnya. Infrastruktur yang pulih tanpa diiringi kebangkitan mental dan semangat petani berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Siklon Tropis Senyar pada akhirnya bukan semata tentang membangun kembali apa yang rusak, tetapi tentang membangun kembali kehidupan, harapan, dan ketangguhan masyarakat. Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan masyarakat, proses pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diharapkan mampu mengembalikan fungsi sosial-ekonomi wilayah sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko bencana di masa mendatang. Dari puing-puing bencana, upaya bersama ini menjadi pijakan untuk bangkit menuju masa depan yang lebih aman, kuat, dan berkelanjutan.